Tampilkan postingan dengan label Alam Milik Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam Milik Kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2015

Sawah Jaring Laba-Laba

Kali ini saya tertarik untuk ‘mengcopy-paste’ informasi tentang sistem pembagian sawah yang tidak akan anda jumpai di manapun kecuali di Ruteng, Manggarai.


Bagaimana kesan pertama anda melihat sawah tersebut? Mirip sekali dengan jarring laba-laba bukan? Mengapa bisa begitu? Mari kita simak.


Masyarakat Manggarai telah mengenal tradisi pembagian lahan sawah dan kebun dengan sebutan lingko. Kalau istilah romo sekaligus peneliti, Vinadi GM, Tembong one, lengko pe’ang. Arti ungkapan tersebut ialah gendang di dalam, tanah ulayat di luar. Makna itu dalam, dimana sebuah gendang yang menggantung di tiang utama sebuah rumah induk adat (mbaru gendang). Itu merupakan manifestasi kekuasaan adat beserta pemangkunya (dalu dan tua teno) dan tanah merupakan satu ungkapan territorial kekuasaan tersebut.


Lingko adalah tanah adat yang dimiliki secara komunal dan merupakan bekal untuk memenuhi kebutuhan bersama. Tanah dibagikan pada anggota mayarakat sesuai ketentuan adat. Keberadaan sebuah kampung pastilah dipusatkan di sebuah mbaru gendang dimana lingko pastilah ada. Lingko sendiri diperkirakan telah ada saat manusia di Flores mulai berpindah kebiasaan dari berburu menjadi agraris yang menetap. Berikutnya terbentuk sebuah kampung yang disebut beo. Warga sebuah beo memiliki kemampuan merambah hutan untuk dijadikan lahan garapan. Luas sebuah lingko tergantung pada kemampuan merambah dan jumlah masyarakat dalam sebuah beo.


Seperti manusia, lingko juga memiliki sebuah nama. Ia diberi nama dari jenis tumbuhan di kawasan tersebut saat dibukanya lahan atau dari keberadaan sungai yang menoreh lingko saat dibuka. Sebuah lingko bisa juga dari nama bentuk geografis lahan seperti nama belang rambang karena di lingko tersebut asalnya ditemukan banyak tanaman belang, tumbuhan sejenis buluh. Lingko pun memiliki batas yang biasanya merupakan batas antara beo yang satu dengan lainnya. Lingko ini tidak dimiliki secara orang perorangan, karena ini milik komunitas. Sebuah suku atau kelompok adalah tuan tanah sekaligus penguasa atau disebut ata ngara tana dari lingko-nya. Setiap suku memiliki tetua yang disebut tu’a teno yaitu seseorang yang diberi kekuasaan mengatur sistem besaran tanah lingko. Sistem pengaturan besaran tanah lingko disebut lodok. Pengaturan ini dipusatkan di rumah induk mbaru gendang. Oleh karena itu, keterkaitan gendang dan simbol kekuasaan adat dengan tanah lingko sangatlah erat.


Bentuk lingko secara filosofis dikaitkan dengan mbaru niang yaitu rumah asal mula yang masih tersisa dan satu-satunya desa yang mempertahankannya, yaitu di Wae Rebo,  atau pun di Ruteng Pu’u. Rumah mbaru niang memiliki tiang pancang utama (siri bongkok) di tengah-tengah yang dilingkari delapan tiang-tiang penyangga luar (siri leles) membentuk sebuah lingkaran. Di tiang pancang utama, disimpan sesajian untuk leluhur dimana di sebagian tempat di Flores disebut mori kraeng. Tiang pusat tersebut bersifat sakral. Demikian pula dalam struktur perkampungan atau beo di Manggarai. Rumah-rumahnya memiliki formasi dalam bentuk konsentris yang melingkar mengitari compang, yaitu fondasi batu berundak dimana sebuah altar yang menjadi tempat sakral bagi para leluhur kampung ditempatkan. Dalam penyusunan lingko, sistem lodok yang digunakan tak jauh dari pengaturan mbaru niang ataupun bentuk sebuah beo. Berapa besar pembagian dalam lodok tergantung dari jumlah penerima hasil, relasi dengan para tuan tanah serta status dalam sebuah beo. Tu’a teno biasanya mendapatkan bagian terbesar karena banyak yang harus ditanggungnya.


Di pusat sawah lingko terdapat teno, yaitu kayu yang menjadi titik pusat ditariknya garis menuju batas terjauh. Dulu biasanya ditanam ‘pohon teno’ yang akirnya disebut teno. Pusat ini juga disebut lodok. Di Cancar, teno di pusat sawah lingko ditandai oleh sebuah kayu berbentuk simbol ketuhanan yang satu, yaitu mangka


Secara fisik, lingko menjadi sebuah daya tarik luar biasa dan juga unik, karena anda tidak dapat menemukannya di tempat lain. Cancar adalah daerah yang paling jelas untuk dapat melihat lingko secara utuh. Tertarik untuk datang menikmati jaring laba-laba hijau ini?


Selasa, 27 Agustus 2013

Surfing yuk

Ternyata, nggak perlu pakai passport buat ngerasain surfing luar biasa, karena negara kita pun punya tempat surfing super kece. Nah, menurut CNNGO (situs gaya hidup CNN), tiga spot ini masuk dalam 20 Spot Surfing Terbaik Dunia, let's see!


Nihiwatu di Sumba adalah spot nomor 16.




Then, ada Sipora di Kepulauan Mentawai, Sulawesi Barat di posisi 10. Di sini tiap tahun diadakan kompetisi selancar lo.




Daaan, Uluwatu dan Kuta Bali sebagai nomor 4 dunia, ckckck.



Tuhkan, daripada ribet ke luar negeri, mending yang dalam negeri disambangin dulu, right?

Sabtu, 27 Juli 2013

Lady Diana pun Terpikat

Kali ini, kita bakal bahas pulau yang super duper keren di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pulau ini bernama Pulau Moyo.


Pulau seluas 30.000 hektar ini dihuni sebanyak 2000 jiwa. Selain itu, pulau ini sebagai rumah bagi 21 jenis kelelawar, burung macaque, babi liar, rusa, sapi liar serta ular. Dari 124 spesies burung yang di Sumbawa, Pulau Moyo menyimpan 86 jenis di antaranya, termasuk di dalamnya burung gosong dan burung koak kaok yang kini dilindungi.



Selain itu, tentu saja, terumbu karang, penyu dan ikan melengkapi indahnya pulau eksotik ini.



Sehingga, jangan heran, kalau pulau ini berhasil memikat mendiang Lady Diana dan Mick Jagger untuk berlibur ke sana. Bagi yang tertarik mencicipi langsung suguhan alam ini, boleh lo cari tau dulu lewat http://www.pulaumoyo.com/ Ini milik Indonesia loo, gimana? Bangga kan?








Kamis, 06 Juni 2013

Danau Terindah di Dunia

Dalam Konferensi Danau Sedunia yang diselenggarakan di India tahun 2007 bulan November, Danau Paniai di Papua resmi dinobatkan jadi danau terindah diseluruh dunia!



Pada awalnya, Danau Paniai beserta Danau Tigi dan Danau Tage dinamakan Wissel Meeren. Penamaan ini dinisbatkan kepada orang yang pertama kali menemukan ketiga danau cantik tersebut pada tahun 1938, yaitu seorang pilot berkebangsaan Belanda bernama Wissel. Pada saat itu, Wissel terbang melintasi pegunungan Pulau Papua (Irian ketika itu) dan melihat tiga danau yang memiliki pemandangan yang indah. Karena terpesona dengan keindahannya, Wissel memutuskan untuk mendarat dan menikmati eksotisme ketiga danau tersebut dari dekat. Pada masa kolonial Belanda, nama Wissel Meeren lebih populer ketimbang Paniai. Wissel Meeren berasal dari Bahasa Belanda yang memiliki arti Danau-danau Wissel.


Nah, sebanyak 157 negara, fix memberi Danau Paniai tahta sebagai danau terindah di dunia karena sifatnya yang masih sangat alami dan belum terjamah tangan tidak bertanggung jawab. Pemberian tahta ini juga dalam rangka merawat dan melestarikan danau Paniai. Rencananya, duta 157 negara dalam konferensi India akan segera datang ke Papua untuk studi banding di ratu danau dengan ketinggian 7.500 meter tersebut :)



 

Keajaiban Danau Labuan Cermin

Mau lihat keajaiban alam? Datanglah ke Danau Labuan Cermin di Berau, Kalimantan Timur. Keindahan 'danau bercampur laut' dan airnya yang jernih seolah membuat anda berenang di atas cermin raksasa. Tempat yang sangat istimewa!

  
Jangan heran ketikan mendengar 'danau bercampur laut', karena Danau Labuan Cermin memang danau yang unik dan indah. Anda akan terhipnotis oleh batas antara air laut di dasar danau dan air tawar di permukaan danau. Ya, danau ini memiliki aliran air asin di dasarnya dan air tawar permukaannya. Anehnya, kedua lapisan air ini tidak tercampur! Rupanya, kedua jenis air ini tidak tercampur karena dipisahkan oleh lapisan mirip awan, yang diduga adalah hasil pembusukan organisme di dasar danau. 


Danau ini terletak di di Desa Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Diperlukan perjalanan yang berat dan biaya yang tidak sedikit untuk menuju ke Danau Labuan Cermin. Untuk mencapai danau ini, diperlukan waktu sekitar 20-24 jam perjalanan darat dari Samarinda, atau melalui jalur udara dari Bandara Sepinggan Balikpapan menuju Bandara Tanjung Redeb, lalu dilanjutkan 6 jam perjalanan darat. Seperti kata pepatah, 'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian', diperlukan pengorbanan yang luar biasa untuk mencicipi keajaiban harta karun Danau Labuan Cermin.

Sebelum mencapai Danau Labuan Cermin, Anda harus trekking menelusuri hutan selama 30-45 menit. Hutan yang sangat liar dan menantang. Pepohonan yang rimbun dan satwa-satwa liar akan menjumpai Anda. Seperti monyet, babi hutan, burung, owa-owa dan beruang madu. Bahkan di beberapa batang pohon, Anda akan menjumpai bekas cakaran beruang madu. Trekking yang sangat menyenangkan, bukan?

Setibanya di danau, mulut Anda seperti terkunci saat menyaksikan luas, jernih dan birunya air danau, serta udara sejuk yang akan menghapus keringat Anda. Siapkan diri Anda untuk diving, snorkling, dan berenang. Airnya sangat dingin, jernih, dan segar. Saat menyelam, Anda akan merasakan gelembung-gelembung air dan beberapa titik-titik yang hangat, karena dasarnya terdapat batas antara air laut dan air tawar. Keindahan biota lautnya jangan dipertanyakan. Tumbuh-tumbuhan air, ikan-ikan yang cantik dan batu-batuan alami di dalam air membuat Anda seolah berada di mimpi. Tempat yang sangat menyejukan. Perjalanan 20 jam, seolah tidak ada artinya saat Anda menikmati keindahan Danau Labuan Cermin.




Di sekitar danau belum terdapat resort-resort yang mewah, hanya terdapat perumahan penduduk. Selain itu, hanya terdapat beberapa warung makan di sekitar danau. Anda juga harus membawa peralatan snorkling, karena belum terdapat penyewaan alat-alat snorkling. Namun, semua itu tidak dapat memudarkan keindahan dan kecantikan Danau Labuan Cermin.

Danau Labuan Cermin memang belum dikenal oleh wisatawan, namun keindahannya seolah menjadi harta karun yang tersembunyi di Kalimantan Timur. Akhirnya, kembali pada kita lagi, apakah kita mampu menjaga harta karun keajaiban alam tersebut?





with edited: http://apiancintadamai.blogspot.com/2012/01/danau-labuan-cermin-harta-karun-di.html